Pemandian rupang di sudut bangunan yang didirikan tahun 1823 silam. Foto : (nana/mili.id)
Mojokerto, mili.id - Ada yang berbeda kali ini di perayaan Imlek 2576 Kongzili di Kelenteng Tri Darma Hok Sian Kiong. Pohon Bodhi atau Ara Suci yang rimbun dan berusia ratusan tahun di halaman nampak dipangkas agar terlihat lebih rapi.
Meski tak masuk dalam ritual penyambutan Imlek, pemangkasan ini dilakukan rutin setiap kali kondisi ranting dan dedaunan semakin rimbun menutupi gantungan berwarna merah yang berisikan doa permohonan para umat Budha dalam satu tahun ke depan.
"Kebetulan bertepatan agak rimbun, tapi kadang sebelum Waisak juga kita potong kalau sudah rimbun," ujar Oki salah satu panitia perayaan imlek kali ini pada mili.id, Minggu (26/1/2025).
Sementara, panitia perayaan imlek lainnya Endra Yulianto (75), menyebutkan, perayaan di kelenteng yang ada di persimpangan Jalan Residen Pamuji dan Jalan Panglima Sudirman, Kota Mojokerto ini sama seperti Februari 2024 lalu.
Hanya ada bersih-bersih ruangan kelenteng dan pemandian rupang di sudut bangunan yang didirikan tahun 1823 silam.
"Iya hanya ada tradisi pembersihan rupang setipa tahun. Tidak ada pawai dan barongsai, hanya ritual malam Imlek saja," beber Koh Endra.
Baca juga: Gelap Gulita, Pria 65 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa di Lapangan Surodinawan Mojokerto
Sejak pukul 08.00 WIB pagi, terlihat belasan orang sibuk melepaskan satu persatu pakaian, perhiasan yang dikenakan para patung dewa dengan kehati-hatian. Utamanya Makco yang menjadi dewa teragung di ruang altar.
Sebelum merayakan Imlek dengan Shio Ular Kayu pada Rabu (29/1/2025), pengurus dan umat lebih dulu beribadah meminta izin untuk pelaksanaan pembersihan rupang pada Kamis (23/1/2025) lalu.
Sebanyak 24 rupang dewa utama di dalam kelenteng termasuk Makco, Dewi Kwam IM yang ada di dalam altar dan puluhan rupang lainnya tak luput dari mandi bunga.
Baca juga: Jejak Langkah dari Mojokerto: Sepatu Buatan Tangan yang Menemani Mimpi Anak Sekolah
"Dan itu hanya setahun sekali bolehnya. Pembersihan bisa tiga hari atau tujuh hari sebelum imlek, tergantung ijin dari dewa," bebernya.
Tak hanya umat Budha dan pengurus yang membersihkan rupang, keharmonian di kota pluralisme ini juga terlihat saat sejumlah anggota komunitas Gus Durian hadir dengan sukarela membantu memandikan patung dewa-dewa.
"Makco bajunya tahun ini harus diganti, karena ada pemberitahuan harus diganti. Kami memang setiap tahun pasti datang ke sini membantu menjelang imlek, sebagai wujud ke Bhinekaan," pungkas Kukun salah satu anggota Gusdurian Mojokerto.
Editor : Aris S
