22 Desember Kongres Perempuan Indonesia, Cikal-bakal Peringatan Hari Ibu

22 Desember Kongres Perempuan Indonesia, Cikal-bakal Peringatan Hari Ibu © mili.id

Ilustrasi

Surabaya, mili.id - Tepat pada 22 Desember 1928 atau 96 tahun yang lalu terjadi peristiwa Kongres Perempuan Indonesia ke-1, yang diselenggarakan di Yogyakarta. Kongres yang berlangsung selama 4 hari ini menjadi cikal-bakal lahirnya Peringatan Hari Ibu.

Kongres ini dihadiri seribu orang lebih dari 30 organisasi perempuan di 12 kota di Jawa-Sumatra dan beberapa organisasi kaum laki-laki yang terkemuka saat itu, seperti Boedi Oetomo, PNI hingga Muhammadiyah.

Kongres diadakan di sebuah pendopo Dalem Jayadipuran, milik seorang bangsawan, R.T. Joyodipoero, yang sekarang berganti nama menjadi Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Tujuan Kongres Perempuan Indonesia

Kongres ini bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan pernikahan.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu juga ikut mengapresiasi kongres ini sebagaimana dilaporkan oleh Penasihat Urusan Pribumi, Charles Olke van der Plas, kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Andries Cornelis Dirk de Graeff.

Bahkan Van Der Plas menyebutkan bahwa ia telah menugaskan istri seorang pegawai bawahannya, Patih Datoek Toemenggoeng, untuk menghadiri kongres dengan catatan harus memberikan laporan lengkap kepadanya. 

Nama istrinya adalah Rangkajo Chailan Sjamsoe Datoek Toemenggoeng, seorang Minang yang memimpin gerakan perempuan yang sedang naik daun. Laporannya menyebutkan bahwa sekitar 600 perempuan hadir mewakili generasi tua dan muda, berpendidikan dan tidak berpendidikan.

Hasil Kongres Perempuan Indonesia

Kongres pertama bagi kaum perempuan ini menghasilkan keputusan sebagai berikut:

1. Mendirikan badan federasi bersama dengan nama "Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia" (PPPI).

2. Menerbitkan surat kabar, yang redaksinya dipercayakan kepada pengurus PPPI, anggota-anggota redaksi terdiri dari: Nyi Hajar Dewantoro, Nn. Hajinah, Ny. Ali Sastroamijoyo, Nn. Ismudiyati, Nn. Budiah dan Nn. Sunaryati (Nyi Sunaryati Sukemi).

3. Mendirikan studifonds(dana studi) yang akan menolong gadis-gadis yang tidak mampu.

4. Memperkuat pendidikan kepanduan putri.

5. Mencegah perkawinan anak-anak.

6. Mengirimkan mosi kepada pemerintah Hindia Belanda agar:
- Secepatnya diadakan fonds bagi janda dan anak-anak.
- Tunjangan bersifat pensiun jangan dicabut.
- Sekolah-sekolah putri diperbanyak.

7. Mengirimkan mosi kepada Raad Agama agar tiap talak dikuatkan secara tertulis sesuai dengan peraturan agama.

Kepada Pemerintah Belanda waktu itu dikirim tiga mosi sebagai berikut:

1. Penambahan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan.

2. Supaya pada penikahan pemberian keterangan tentang taklik (janji dan syarat-syarat perceraian) diwajibkan.

3. Diadakan peraturan sokongan untuk janda-janda dan anak-anak piatu pegawai negeri.

Tokoh Kongres Perempuan Indonesia

Tokoh-tokoh besar yang terlibat dalam kesuksesan kongres perempuan pertama adalah sebagai berikut:

1. R.A. Sukonto
2. Siti Munjiah
3. Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito
4. Sunaryati Sukemi
5. Raden Ayu Catharina Sukirin Harjodiningrat
6. Nyonya Sujatin Kartowijono
6. Nyi Hadjar Dewantara
8. Nyi Driyowongso
9. Nyonya Alfiah Muridan Noto
10. Nyonya Badiah Moerjati Goelarso
11. Nyonya Siti Hajinah Mawardi
12. Nyonya R.A. Surya Mursandi
13. Nyonya lsmudiyati Abdul Rachman Saleh
14. Raden Ayu Bintang Abdulkadir.

Oleh sebab itu, untuk menghargai jasa para tokoh perempuan dan para ibu di Indonesia, hari pertama penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 Desember 1928 ditetapkan sebagai Hari Ibu. 

Tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu, yang berbeda dengan negara-nagara lain ini disahkan oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 tentang hari-hari nasional yang bukan hari libur.

Baca juga: Spesial Hari Ibu Besok, Kebun Binatang Surabaya Beri Promo Khusus

Editor : Achmad S



Berita Terkait