Kondisi mobil Jenderal Mallaby (Foto: Wikipedia)
mili.id - Tepat pada 30 Oktober 1945 atau 79 tahun lalu, Brigadir Jenderal (Brigjen) Aubertin Walter Sothern Mallaby alias AWS Mallaby tewas ditangan arek-arek Suroboyo.
Tewasnya perwira tinggi tentara Inggris ini merupakan pemicu pertempuran 10 Nopember di Kota Pahlawan.
Baca juga: Baktiono Kritik Sistem Desil Bansos, Usulkan UMK Jadi Acuan
Sebelum Jenderal Mallaby tewas, pasukan sekutu yang diwakili oleh militer Inggris baru tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945, setelah Jepang menyerah dan Perang Dunia (PD) II selesai.
Tujuan Inggris ke Surabaya untuk melucuti senjata tentara Jepang dan membebaskan orang Eropa dari tawanan.
Namun, kedatangan militer Inggris lewat Pelabuhan Tanjung Perak ini mendapat sambutan kurang enak dari arek-arek Suroboyo.
Coretan-coretan berbahasa Indonesia "Merdeka atau Mati", berbahasa Urdu "Ayadi ya Kunrezi" menyambut kedatangan pasukan dua batalyon Indian Army dari Brigade Infanteri India ke-49.
Sehari setelah mendarat di Surabaya, pada 26 Oktober 1945, Jenderal Mallaby mengutus Kapten Douglas MacDonald untuk menemui Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Moestopo dan Gubernur Jawa Timur Soerjo, untuk melakukan negosiasi dan koordinasi.
Tentunya, negosiasi dan koordinasi ini perlu dilakukan oleh Jenderal Mallaby yang sadar bila arek-arek Suroboyo tidak hanya bernyali, tetapi juga nekat. Apalagi, ia hanya membawa 4.000-an pasukan dan itu tak cukup untuk melawan ratusan ribu barisan berani mati.
Oleh sebab itu, jalan moderat ini ditempuh semata untuk mengamankan dirinya dan pasukannya dari keberingasan arek-arek Suroboyo saat itu. Namun upaya moderat ini tak sepenuhnya berjalan mulus, setelah langkah ini justru membuat arek-arek Suroboyo geram.
Kronologi Tewasnya Jenderal Mallaby
Pada 27 Oktober 1945 sekitar pukul 11.00 WIB, ribuan pamflet berisi ultimatum penyerahan senjata arek-arek Suroboyo ditebar dari udara lewat pesawat Dakota. Ultimatum ini tentunya membuat situasi semakin memanas.
Baca juga: Kawi Lounge Sheraton Surabaya Manjakan Pecinta Cocktail Premium Eksklusif Malam
Rupanya, ultimatum itu dilakukan sepihak oleh atasan Mallaby, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn, Panglima Divisi Inggris-India ke-23. Hawthorn menilai Mallaby terlalu lamban. Dia ingin Mallaby bersama pasukannya menduduki Surabaya dalam tempo yang singkat.
Ultimatum ini justru dijawab oleh arek-arek Suroboyo dengan pertempuran selama 3 hari, 27-29 Oktober 1945. Dalam pertempuran hebat 3 hari itu yang dipimpin Bung Tomo itu, pasukan tentara Inggris dibawah komando Mallaby akhirnya terdesak.
Sebagai penanggungjawab ultimatum, Hawthorn harus putar otak untuk menyelamatkan pasukannya yang terdesak. Hawthorn bahkan bersurat dan memohon pada Presiden RI Soekarno untuk meredakan amarah massa di Surabaya.
Merespon permohonan itu, pada 29 Oktober 1945, Soekarno didampingi Wakil Presiden RI Muhammad Hatta datang ke Surabaya. Kedatangan "Singa Podium" itu untuk menghentikan kontak senjata dan melakukan perundingan dengan Hawthorn.
Dalam perundingan itu, Hawthorn sepakat mencabut pamflet ultimatum yang disebar pada 27 Oktober 1945 lewat pesawat Dakota. Namun, langkah itu belum sepenuhnya dapat meredakan amarah arek-arek Suroboyo.
Baca juga: Pengawasan Dipertanyakan, Dua Tiang Wifi Sumbat Saluran Wonokusumo Surabaya
Keesokan harinya, 30 Oktober 1945, Jenderal Mallaby bersama sejumlah petinggi Surabaya berkeliling naik mobil untuk mengumumkan adanya gencatan senjata.
Namun, begitu mendekati Gedung Internatio, dekat Jembatan Merah, mobil Jenderal Mallaby terjebak di tengah kerumunan massa yang mengepung pasukan Inggris.
Tiba-tiba ada letupan senjata yang terdengar. Entah siapa yang memulai, baku tembak pun tidak terhindarkan.
Saat malam, Jenderal Mallaby ditemukan tewas di mobil Buick 8 yang ditumpanginya. Dadanya dihujam 4 peluru. Mobilnya ringsek akibat ledakan granat.
Editor : Narendra Bakrie
