Patung Jalaludin Rumi di Museum Mevlana, Qonya (istimewa)
Mili.id - Hampir seluruh masyarakat Indonesia sudah mengetahui bila tanggal 30 September diperingati sebagai Peristiwa G30S/PKI. Begitu kelamnya peristiwa tersebut membuat masyarakat sudah hafal dengan jalan ceritanya.
Peristiwa pembunuhan 7 jenderal dan perwira tinggi tentara oleh PKI pada 30 September 1965 itu memang sangat layak untuk dikenang, agar percobaan kudeta tersebut tidak kembali terulang.
Baca juga: 28 April Hari Puisi Nasional, Berikut 10 Penyair Fenomenal Indonesia
Namun, apakah Anda sudah tahu bahwa tepat pada tanggal yang sama, 30 September 1207 merupakan hari kelahiran penyair sufi asal Persia, Jalaludin Rumi.
Berikut profil, cerita akhir hayat dan karya Jalaludin Rumi:
Profil Jalaludin Rumi
Jalaludin Rumi adalah seorang penyair sufi Persia sekaligus menjadi ulama besar di Balkh atau Persia Raya pada abad ke-13.
Ia lahir pada di Balkh, Afghanistan pada tanggal 30 September 1207. Tepatnya Rumi lahir di desa Wakhsh, merupakan sebuah kota kecil yang di dekat sungai Wakhsh di Persia.
Ia memiliki nama panjang yaitu Jalal ad-Din Mohammad Rumi atau yang sering dikenal dengan panggilan Rumi. Rumi memiliki ayah yang bernama Bahauddin Walad, yang masih keturunan dari Abu Bakar.
Ayah Rumi adalah seorang guru yang terkenal di Balkh, dan cendekiawan yang saleh serta berpandangan ke depan. Sedangkan, ibunya Mumina Khatun yang berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm.
Perjalanan Rumi hingga Menjadi Penyair Sufi
Pada saat Rumi berusia tiga tahun, keluarganya meninggalkan Balkh melalui Khurasan dan Suriah, sampai ke Provinsi Rum di Anatolia tengah yang masih menjadi bagian Turki.
Hal ini disebabkan terancamnya masyarakat di sana oleh serbuan pasukan Mongol antara tahun 1215 dan tahun 1220. Sehingga, Rumi beserta keluarganya memilih untuk menyelamatkan diri dengan cara meninggalkan tempat kelahirannya.
Mereka bermigrasi, hidup nomaden atau berpindah-pindah menuju ke tanah Muslim, termasuk ke Baghdad, Damascus, Erzincan, Malatya, Sivas, Kayseri dan Nidge, hingga akhirnya mereka menetap di Qonya, ibu kota dari Rum.
Dalam pengungsiannya tersebut, keluarganya sempat singgah di kota Nishapur, Iran, yang merupakan tempat kelahiran penyair ahli matematika yaitu Omar Khayyam. Di kota inilah Rumi bertemu dengan Fariduddin Attar.
Attar merupakan seorang penyair yang sangat terkemuka di Persia pada saat itu. Attar terkagum melihat Rumi yang masih berusia 8 tahun, yang saat itu tengah berjalan dibelakang ayahnya.
Sang penyair besar itu mengucap sebuah kalimat "Tengah datang ke sini sebuah lautan (sang ayah) yang di belakangnya diikuti sebuah samudra (si bocah)." Attar meramalkan anak pengungsi ini kelak akan menjadi tokoh spiritualis yang masyhur.
Attar lalu menghadiahkan sebuah kitab yang ditulisnya bertajuk Asrarnama kepada Rumi. Pada tahun 1244 M, Rumi bertemu dengan Syekh spiritual, Syamsuddin dari Tabriz yang mengubahnya menjadi sempurna dalam ilmu tasawuf.
Namun kemudian Syamsuddin meninggal, lalu Rumi bertemu dengan Husamuddin Ghalabi dan mengilhaminya untuk menuliskan pengalaman spiritualnya dalam karya monumentalnya yaitu Matsnawi-ye Ma’nawi. Yang kemudian ia mendiktekan karyanya itu kepada Husamuddin sampai akhir hayatnya pada tahun 1273 M.
Baca juga: Peringatan Hari Perjuangan Tani Internasional 17 April, Begini Sejarahnya
Ketika menginjak usia dewasa, ramalan Attar itu menjadi kenyataan. Bocah yang ditemuinya saat usia 8 tahun itu benar-benar menjadi salah satu tokoh spiritual dan penyair sufi terbesar dalam sejarah peradaban Islam.
Rumi menjadi seorang Imam serta penceramah di Qonya. Usia Rumi saat itu masih terbilang muda, yaitu 24 tahun. Meski begitu, ia berhasil membuktikan bahwa dirinya adalah seorang yang memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam.
Akhir Hayat Rumi
Rumi meninggal pada tanggal 17 Desember 1273, ia meninggal di Qonya, ketika kota inj berada di bawah pemerintahan kerajaan Seljuk. Lalu jasadnya dikuburkan di samping makam sang ayahnya yang juga Qonya.
Pemerintah kerajaan Seljuk membangun sebuah makam mausoleum bernama Mevlana, yang didalamnya terdapat sebuah Masjid, aula untuk menari dan ruangan lainnya. Ini dilakukan sebagai wujud penghargaan terhadap sang Sufi Rumi ini.
Makam tersebut sering dikunjungi oleh para penggemarnya, dan makam Rumi ini pun dijadikan sebagai tujuan ziarah yang cukup populer hingga saat ini.
Karya Populer Jalaludin Rumi
Karya Rumi yang paling terkenal yaitu puisi al-Matsnawi al-Maknawi, yang merupakan revolusi terhadap ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya pun banyak mengkritik arahan filsafat yang cenderung sudah melampaui batas.
Rumi memiliki ciri khas tersendiri dari karya puisinya tersebut yaitu, Rumi selalu menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat oleh cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik dan juga Rumi menyampaikan bahwa Tuhan menjadi tujuannya.
Baca juga: 24 Februari Sebagai Hari Bartender Sedunia
Ia juga sering menulis puisinya menggunakan kisah-kisah, seperti tokoh Yusuf, Musa, Yakub, Isa yang ditampilkan sebagai lambing dari keindahan jiwa yang mencapai ma’rifat.
1. Diwan-e Shams-e Tabrizi
Kitab ini berisi Ghazal yang khusus dipersembahkan untuk sahabatnya yaitu Shamsuddin. Shamsuddin sudah menjadi kawan baiknya sekaligus menjadi sosok yang sangat menginspirasi karya ini. Di dalam isi karya besar ini, Rumi juga menambahkan sajak-sajak, dan ditulis dalam dialek ‘Dari’. Karya ini juga sudah diakui sebagai sastra Persia terbesar sepanjang sejarahnya.
2. Mathnawi
Ini merupakan karya tasawuf yang paling berpengaruh, Mathnawi atau yang biasa disebut dengan Masnawi atau Mansavi merupakan sebuah kompilasi yang terdiri dari enam buku yang berjumlah 25.000 ayat, yang ditulis bergaya didaktis.Karya ini dibuat dengan tujuan untuk berdakwah, mengajar, dan untuk menghibur para pembacanya.
Selama penulisan karya ini, Rumi selalu ditemani oleh Husam al-Din Chalabin, seorang yang sangat mempengaruhi pemikiran Rumi tentang kehidupan spiritual, dan karya ini terkenal sebagai puisi mistis terbesar dalam sastra dunia.
Rumi dapat mengkombinasikan tiga hal sekaligus, ia mempunyai visi spiritual yang mendalam seperti Buddha atau Yesus, dan mempunyai refleksi intelektual yang luas seperti Plato dan Aristoteles, ia juga mempunyai kemahiran dalam menemukan kata-kata indah seperti Shakesphare.
Pada tahun 2007 Rumi pernah dikategorikan sebagai “the most popular poet in America”, hal ini menunjukkan bahwa Rumi semakin populer di dunia, meski ia telah tiada.
Editor : Aris S
