Menilik Tradisi Pindapata di Kota Mojokerto dalam Waisak 2567 Buddhis Era

Menilik Tradisi Pindapata di Kota Mojokerto dalam Waisak 2567 Buddhis Era © mili.id

Salah satu pedagang sayur membagikan dermanya ke para biksu dan biksuni di depan Taman Lalu Lintas, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Kamis (23/5/2024). Foto : (nana/mili.id)

Mojokerto - Para biksu dan biksuni berkeliling melaksanakan ritual pindapata jelang Waisak di Jalan Joko Tole, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Kamis (23/5/2024).

Dengan berjalan tanpa alas kaki sejauh 1 kilometer, ke 7 biksu dan biksuni berkeliling menerima derma makanan dari umat Budha dan masyarakat sekitar.

Baca juga: Truk Kontainer Terguling di Simpang Jampirogo Mojokerto, Dua Polisi Lalu Lintas Berlarian Selamatkan Diri

Bahkan pedagang sayur keliling di sekitar lokasi tertarik ingin mendermakan salah satu barang dagangannya ke para biksu. meski dirinya bukan seorang umat Budha.

"Alhamdulillah senang saja bisa ikut berbagi, walau seadanya," ucap Sri (39), pedagang sayur yang mangkal di sepanjang jalan depan Taman Lalu Lintas, Magersari dengan semringah.

Para biksu dan biksuni berkeliling melaksanakan ritual pindapata jelang Waisak di Jalan Joko Tole, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Kamis (23/5/2024). Foto : (nana/mili.id)Para biksu dan biksuni berkeliling melaksanakan ritual pindapata jelang Waisak di Jalan Joko Tole, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Kamis (23/5/2024). Foto : (nana/mili.id)

Baca juga: Gelap Gulita, Pria 65 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa di Lapangan Surodinawan Mojokerto

Selain untuk melestarikan tradisi jelang Waisak 2567 Buddhis Era (BE), ritual ini sebagai wadah interaksi para biksu dengan masyarakat Kota Mojokerto yang beragam dan toleran.

Para biksu dan biksuni terus berkeliling menerima derma dari umat Budha yang sudah menunggu sejak pukul 06.00 WIB, sembari melantukan kidung pujian dan doa untuk penderma.

Baca juga: Jejak Langkah dari Mojokerto: Sepatu Buatan Tangan yang Menemani Mimpi Anak Sekolah

Umat atau masyarakat yang ingin berbagi lalu meletakkan dermanya ke dalam kuwali atau mangkuk logam. Seperti, nasi, kue, susu, buah, sayur mayur, dan jajanan pasar sebagai bekal kehidupan para biksu ke depan.

"Tradisi ini memang ada sejak jaman Budha, dan memang kami kenalkan dalam 1 tahun 2 kali (Waisak dan Kabita) di Kota Mojokerto. Derma makanan ini tidak hanya umat Budha, boleh siapapun. Seperti masyarakat di sini cukup menerima, dan perlahan ikut serta dalam derma. Ini menunjukan keragaman dan ke Bhinekaan," jelas pemimpin biksu dari Wihara Buddhayana Indonesia Kota Mojokerto, Bhante Nyana Sila Terra.

Editor : Aris S



Berita Terkait