Ramadan, Pesanan Sirup Salak Khas Jombang Naik Drastis

Ramadan, Pesanan Sirup Salak Khas Jombang Naik Drastis © mili.id

Sirup salak yang diproduksi secara rumahan di Jombang.(Elok Apriyanto/Mili.id)

Jombang - Bulan suci ramadan tahun ini, merupakan berkah tersendiri bagi pelaku usaha kecil menengah (UKM). Seperti UKM Kunara yang ada di Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Pada momen ramadan tahun ini, rumah produksi olahan buah salak ini banjir pesanan. Terutama pesanan sirup salak yang diproduksi dari buah salak.

Baca juga: Sengketa Kredit Berakhir Damai, Nenek Ngatini Sepakati Pelunasan Utang Rp70 Juta Secara Bertahap

Kuswartono (54) pemilik usaha olahan buah salak ini, menjelaskan pada momen ramadan, produk olahan buah salak yang saat ini digemari oleh para konsumen baik Jombang maupun luar Jombang adalah jenis sirup buah salak.

"Yang lagi naik (laku dipasaran), yaitu sirup buah salak. Bahannya dari buah salak asli, tanpa pewarna dan tanpa esen (pemanis buatan). Buahnya asli dan mengandung banyak vitamin, ini yang lagi naik sampai kehabisan stok," kata Kuswantoro, Rabu (203/2024).

Ia mengaku naiknya pesanan sirup buah salak itu membuat proses produksi juga mengalami kenaikan. Tak tanggung-tanggung kenaikan produksi bisa mencapai 70 persen.

Bila untuk membuat dua botol sirup buah salak, dibutuhkan buah salak segar sebanyak 1 kilogram. Kini dalam sekali produksi Kuswantoro mengaku bisa menghabiskan 1 kwintal buah salak.

"Naiknya produksi sampai 70 persen. Apalagi di musim mau lebaran seperti sekarang ini. Kalau dua botol itu satu kilo, ini sekali produksi satu kwintal, atau setara 200 botol sekali produksi, dan dalam waktu sebulan kita habiskan satu ton buah salak," ujarnya.

Selain memproduksi sirup buah salak, ia mengaku juga membuat sejumlah kue dan makanan lainnya, berbahan buah salak.

"Selain sirup kita punya dodol, keripik salak, teh salak, kopi biji salak, dan bakery," tuturnya.

Ia pun mengaku selain sirup buah salak, produk olahan buah salak lainnya juga sedang mengalami kenaikan pesanan. Untuk dibuat hantaran atau sekedar camilan pada saat buka puasa.

"Kalau bulan seperti ini (ramadhan) adalah hari rayanya, pelaku UKM makanan minuman meningkat. Biasanya kami produksi, itu 500 produk, kini bisa naik sampai 2.000, hingga 3.000 kotak. Jadi peningkatannya diatas 100 persen," katanya.

Baca juga: PHK 1.000 Buruh PT SGS Jombang Picu Penolakan, Disnaker Fasilitasi Penyelesaian Perselisihan

Saat ditanya mengapa buah salak yang dipilih untuk menjadi olahan makanan dan minuman. Ia menegaskan bahwa di wilayah tempat ia tinggal, terdapat buah salak yang melimpah sehingga ia terfikir untuk memanfaatkan bahan baku yang ada di sekitar rumahnya itu.

"Di Jombang banyak salak. Salak ini juga asli buah Indonesia, dan salak belum disentuh oleh industri, nah kami melihat itu merupakan peluang bagus. Nah untuk itu saya membuat olahan dari buah salak," ujarnya.

Ia menyebut, buah salak tersebut bisa dimanfaatkan mulai dari kulit hingga bijinya. Sehingga tidak menyisakan limbah.

"Mulai dari kulit sampai biji bisa kita jadikan produk, mulai teh, kopi, sirup, ada dodol, keripik dan lain sebagainya," tuturnya.

Ia menegaskan harga olah buah salak di rumah UKM Kunara, tergolong masih murah dan terjangkau oleh semua kalangan.

Baca juga: Hewan Kurban Sapi dari Kapolda Jatim Diserahkan Kapolres Jombang ke Dua Ponpes di Jombang

"Di sini harga paling murah, Rp 10.000, dan yang paling tinggi itu Rp 20.000, yaitu sirup buah salak Kunara harganya Rp 20.000," katanya.

Ia menegaskan selain dipasarkan di Jombang, sirup buah salak juga dipesan dari berbagai daerah di Indonesia, hingga ke luar negeri.

"Fokus memang di Jombang, yang lain sekitar Jombang sama dijual online. Kami paling jauh sampai ke luar negeri, seperti di Malaysia, Hongkong, dan Korea," ujarnya.

Saat ditanya berapa omset yang dihasilkan dari olahan buah salak di rumah UKM Kunara, dalam sebulan.

"Kita omset kalau momen seperti ini bisa dua kali lipat, sampai 350 hingga 400 juta rupiah per bulan itu semua produk. Kalau sirup bisa sekitar 25 persen dari 400 juta rupiah. Kalau hari biasa kecil hasilnya," tuturnya.

Editor : Achmad S



Berita Terkait