Sejumlah ibu-ibu mengajak anak-anaknya seusai pulang sekolah melihat langsung unta di gembala, Rabu (13/06/2026).
Mili.id – Kehadiran ternak unta di peternakan Berkah Wafa Farm (BWF), Kabupaten Mojokerto, mendadak menjadi perhatian masyarakat. Hewan khas Timur Tengah itu kini tak hanya menarik perhatian warganet di media sosial, namun juga memancing rasa penasaran warga yang datang langsung untuk melihat dari dekat.
Dalam beberapa pekan terakhir, area peternakan milik Faisal Effendi (42) itu ramai didatangi pengunjung dari berbagai daerah. Banyak di antara mereka sengaja datang bersama keluarga untuk berinteraksi langsung dengan unta, bahkan membawa wortel maupun sayuran sebagai pakan.
Faisal Effendi, pengelola Berkah Wafa Farm, mengaku tak menyangka keberadaan unta di peternakannya berubah menjadi wisata dadakan yang diminati masyarakat.
“Yang jelas kami senang, karena masyarakat bisa datang melihat unta secara langsung. Seratus persen tidak kami kenakan biaya. Banyak yang datang bawa wortel, bawa sayuran, jadi sekalian edukasi juga,” kata Faisal, saat ditemui di peternakannya.
Menurutnya, karakter unta yang jinak membuat pengunjung merasa nyaman saat berinteraksi. Bahkan banyak anak-anak hingga orang dewasa yang awalnya takut, kini berani mendekat dan memberi makan langsung.
Meski demikian, Faisal mengaku tetap harus membatasi interaksi pengunjung, terutama untuk menjaga kesehatan hewan di tengah kewaspadaan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak.
Tak hanya menjadi daya tarik wisata edukasi, keberadaan unta di Mojokerto rupanya juga mulai dilirik masyarakat sebagai hewan qurban menjelang Idul Adha.
Faisal mengungkapkan, dalam beberapa waktu terakhir pihaknya menerima banyak pertanyaan dari masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa terkait kemungkinan membeli unta untuk qurban.
“Yang tanya banyak sekali, bahkan sudah ratusan yang masuk ke handphone saya. Semangat masyarakat untuk berqurban unta luar biasa,” ujarnya.
Namun, antusiasme tersebut belum berujung transaksi. Menurut Faisal, mayoritas calon pembeli masih terkejut ketika mengetahui harga seekor unta yang bisa mencapai ratusan juta rupiah.
“Kalau bicara harga, untuk usia tiga sampai empat tahun kisarannya bisa di angka Rp200 jutaan. Biasanya setelah tahu harga, mereka masih pikir-pikir lagi,” ungkapnya.
Tingginya harga unta, kata Faisal, dipengaruhi populasi yang masih sangat terbatas di Indonesia serta proses pengadaan yang tidak mudah.
Meski begitu, ia optimistis minat masyarakat terhadap qurban unta akan terus tumbuh seiring meningkatnya edukasi dan ketertarikan terhadap hewan eksotis tersebut.
“Banyak yang sudah bilang ingin booking untuk tahun depan, tapi kami masih pelajari semuanya. Yang penting masyarakat sekarang jadi tahu kalau unta juga bisa dibudidayakan di Indonesia,” pungkasnya.
Editor : Redaksi
