Australia Gratiskan Transportasi Umum di Dua Negara Bagian akibat Lonjakan Harga BBM

Australia Gratiskan Transportasi Umum di Dua Negara Bagian akibat Lonjakan Harga BBM © mili.id

Layanan trem yang menjadi bagian dari sistem transportasi publik bagi warga Sydney, Australia.

Mili.id— Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) global yang dipicu konflik Iran mendorong pemerintah di sejumlah wilayah Australia mengambil langkah cepat untuk meringankan beban masyarakat. Dua negara bagian, yakni Victoria dan Tasmania, memutuskan menggratiskan layanan transportasi umum guna mengurangi ketergantungan warga terhadap kendaraan pribadi.

Kebijakan ini menjadi respons langsung terhadap kenaikan tajam harga energi dunia setelah konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran serta terganggunya jalur distribusi energi global di Selat Hormuz.

Baca juga: Ketegangan AS-Iran Memanas, Saling Serang Picu Kekhawatiran Konflik Meluas

Pemerintah Negara Bagian Victoria, yang mencakup Kota Melbourne, mengumumkan seluruh layanan transportasi umum—mulai dari kereta, trem, hingga bus—akan digratiskan sepanjang April 2026. Perdana Menteri Victoria, Jacinta Allan, menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah cepat untuk membantu masyarakat menghadapi tekanan ekonomi akibat mahalnya bahan bakar.

“Langkah ini tidak akan menyelesaikan semua masalah, tetapi merupakan tindakan cepat untuk membantu warga Victoria saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, Pemerintah Tasmania juga menerapkan kebijakan serupa. Mulai Senin (30/3/2026) hingga akhir Juni, masyarakat dapat menggunakan layanan bus, pelatih, dan feri tanpa biaya. Perdana Menteri Tasmania Jeremy Rockliff mengatakan kebijakan ini diambil untuk melindungi anggaran rumah tangga warga dari dampak kenaikan harga energi.

Selain itu, layanan bus sekolah berbayar turut digratiskan, yang diperkirakan dapat menghemat pengeluaran masyarakat hingga sekitar 20 dolar Australia per minggu.

Namun, tidak semua wilayah Australia mengikuti kebijakan tersebut. Pemerintah New South Wales, yang meliputi Kota Sydney, memilih menahan anggaran karena memperkirakan krisis harga energi akan berlangsung lebih lama dari satu bulan. Menteri Transportasi John Graham menyatakan pemerintah daerahnya memilih pendekatan fiskal yang lebih hati-hati.

Baca juga: AS dan Iran Dikabarkan Capai Kesepakatan Awal soal Selat Hormuz dan Uranium

Beberapa negara bagian lain menerapkan strategi berbeda. Australia Selatan memperluas pemberian kartu transportasi bagi lansia, sementara Queensland mempertahankan tarif tetap transportasi umum sebesar 50 sen yang telah berlaku sejak Februari. Pemerintah Australia Barat juga menyebut sebelumnya telah menurunkan tarif transportasi publik.

Dampak Global Konflik Energi
Kenaikan harga BBM terjadi setelah penutupan efektif Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi rute sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam dunia. Gangguan tersebut memicu lonjakan harga energi di berbagai negara.

Berdasarkan data Australian Institute of Petroleum, harga rata-rata bensin di Australia mencapai 2,38 dolar Australia per liter, meningkat dari sekitar 2,09 dolar Australia per liter saat konflik mulai terjadi sebulan sebelumnya.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese sebelumnya berupaya menenangkan masyarakat setelah muncul laporan pembelian panik dan kelangkaan bahan bakar di sejumlah stasiun pengisian.

Baca juga: Kisah Pelaut India: Terjebak Perang Iran dan Bertahan Hidup Seadanya

Pemerintah Australia menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada pasokan energi, melainkan kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional yang berdampak langsung pada harga domestik.

Dampak krisis energi juga dirasakan sejumlah negara lain. Mesir memberlakukan jam operasional lebih singkat bagi toko dan restoran serta mendorong sistem kerja dari rumah. Ethiopia meminta pegawai non-esensial bekerja terbatas untuk mengurangi mobilitas, sementara Filipina menetapkan status darurat nasional dengan pemberian subsidi transportasi dan pengaturan kerja empat hari bagi pegawai negeri.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bagaimana lonjakan harga energi global mulai memaksa berbagai negara mengambil kebijakan penghematan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

Editor : Redaksi



Berita Terkait