Siswa SD dan SMP seberangi sungai dengan rakit bambu. (Atta Hatta/mili.id).
Jember, mili.id - Perjuangan belasan siswa yang ingin sekolah di Desa Sanenrejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember harus menyeberangi sungai menggunakan batang bambu yang dirakit.
Hal ini terjadi setelah jembatan yang menghubungkan dua kecamatan putus akibat arus sungai yang deras. Saat ini sekitar 200 warga harus menggunakan rakit dari bambu untuk menyeberangi sungai.
Sebagai upaya sementara untuk membantu akses warga dan juga siswa sekolah. Anggota Polsek Tempurejo bersama Koramil setempat, juga dibantu warga membuat rakit sederhana dari batang pohon bambu. Mereka membantu warga, khususnya juga siswa sekolah untuk menyebrangi sungai setempat.
"Sejak banjir terakhir itu, kalau tidak salah tanggal 22 Desember 2024. Setelah Banjir itu jembatan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat itu hanyut," kata Kapolsek Tempurejo AKP Heri Supadmo, Rabu (15/1/2025).
Heri menjelaskan, jembatan yang putus itu dibangun oleh warga secara swadaya. Warga sudah empat kali membangun jembatan tersebut.
"Karena putus ini, warga khususnya anak-anak sekolah itu kan tempat tinggalnya masuk wilayah (Kecamatan) Silo, tapi kan mereka sekolahnya di Sanenrejo (Tempurejo). Jadi mereka harus melewati sungai itu, sehingga ketika jembatan itu hanyut, mereka tidak ada akses lagi selain harus dinaikkan dengan rakit buatan sendiri oleh masyarakat, dinaikkan di situ, kemudian ditarik sama kita bersama warga, supaya mereka tidak telat," jelasnya.
Untuk kegiatan menyebrangkan menggunakan rakit dari batang bambu itu. Lanjutnya, secara bergantian dan piket. Satu orang anggota Polsek dan dari Koramil Tempurejo membantu warga untuk menyebrang.
"Untuk anak sekolah, setiap pagi dan saat pulang sekolah membantu. Hal itu dilakukan sembari menunggu proses perbaikan jembatan, yang kembali dibangun secara swadaya oleh masyarakat," ungkapnya.
Lebih lanjut Mantan Kapolsek Patrang ini menjelaskan, warga yang memanfaatkan perahu rakit dari batang bambu itu adalah yang tinggal di wilayah Hutan Tetelan.
"Satu-satunya akses jalan adalah menggunakan jembatan itu. Kalau harus memutar samgat jauh. Mereka profesinya petani hutan kurang lebih kemarin yang kita data melalui Gapoktannya, ada 200 orang petani hutan. Jadi bagi mereka yang punya lahan di situ, akses jembatan itu sangat berperan penting," ungkapnya.
Pembangunan jembatan secara swadaya itu dilakukan, Heri menegaskan, bukan karena ketidakpedulian pemerintah Kabupaten Jember.
"Tapi karena lokasinya masih masuk wilayah Taman Nasional Meru Betiri. Sehingga masih dibahas soal perizinan dan nantinya dimungkinkan membangun jembatan lebih layak oleh pemerintah. Informasinya, warga iuran Rp 200 ribu untuk membangun jembatan. Saat ini terkumpul kurang lebih Rp26 juta," ungkapnya.
Uang tersebut digunakan untuk membangun jembatan, juga membeli peralatan tali seling sepanjang 140 meter.
"Beli dua tali, total ada 140 meter panjang talinya. Saat ini sudah proses pembangunan jembatan baru untuk proses pembahasan soal jembatan yang resmi oleh pemerintah. Untuk prosesnya mungkin juga perlu adanya MOU atau bagaimana, antara pemerintah dengan pihak Taman Nasional, mungkin nanti ada kerjasama di situ karena itu adalah wilayah Taman Nasional Meru Betiri," pungkasnya.
Baca juga: Ketua MAKI Jatim Apresiasi Pemenang Kompetisi Fun Run 5K di Jember
Editor : Achmad S
