Mili.id — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan melonjaknya harga oli mesin membuat para pengemudi ojek online (ojol) di Kota Semarang semakin terhimpit. Di tengah pendapatan yang stagnan, mereka kini dipaksa memilih antara menjaga kondisi kendaraan atau memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Situasi sulit itu dirasakan Dewi, seorang pengemudi ojol perempuan yang setiap hari menggantungkan hidup dari sepeda motornya. Meski harga Pertamax terus meroket, Dewi tetap memilih menggunakan BBM jenis tersebut demi menjaga performa kendaraan saat mengantar penumpang.
Baca juga: Pertamina Ungkap Alasan Harga Pertamax Naik: Demi Jaga Stok BBM Tetap Aman
“Kalau saya memang kebutuhannya Pertamax. Saya pernah coba Pertalite, tapi balik lagi ke Pertamax. Saya merasa lebih nyaman saat berkendara, dan kalau saya nyaman otomatis pelanggan juga nyaman,” ujar Dewi, Selasa (9/6/2026).
Namun keputusan itu membuat biaya operasional hariannya terus membengkak. Sementara itu, tarif perjalanan dari aplikator tidak mengalami kenaikan meski harga BBM sudah beberapa kali disesuaikan.
“Sangat berkurang. Tarif kita tidak ada kenaikan, sementara BBM sudah beberapa kali naik. Yang terakhir ini terasa sekali dampaknya,” katanya.
Tidak hanya BBM, kenaikan harga oli juga menjadi persoalan serius bagi para pengemudi ojol. Sebagai kendaraan yang digunakan hampir sepanjang hari, motor wajib mendapatkan perawatan rutin agar tidak mengalami kerusakan.
Dewi mengaku biasanya mengganti oli setiap dua minggu sekali atau setelah menempuh perjalanan sekitar 2.000 kilometer. Menurutnya, menunda servis hanya akan memperbesar risiko kerusakan motor yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga.
“Kalau tidak diganti, motor yang hancur. Motor itu alat untuk cari nafkah,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, harga oli yang sebelumnya masih berkisar Rp 50.000 kini melonjak hingga Rp 80.000 per botol untuk merek yang sama. Kenaikan tersebut membuat pengeluaran bulanan semakin berat, terlebih harga kebutuhan pokok rumah tangga juga ikut naik.
Sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga, Dewi mengaku kini harus lebih ketat mengatur pengeluaran agar kebutuhan rumah tangga dan biaya operasional kendaraan tetap terpenuhi.
“Untuk perut kita harus lebih hemat, untuk motor juga harus lebih hemat. Padahal dua-duanya sama penting. Kalau motornya rusak, kita tidak bisa kerja. Kalau tidak kerja, kebutuhan rumah tangga juga terganggu,” keluhnya.
Bagi Dewi, kehidupan pengemudi ojol saat ini ibarat roda yang terus dipaksa berputar di tempat. Penghasilan harian yang diperoleh nyaris habis hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur dan biaya operasional kendaraan.
Baca juga: Harga Pertamax Melonjak per 10 Juni 2026, Pertalite dan Solar Subsidi Tetap
“Motor ini untuk mencari nafkah. Kalau perut bisa kita atasi, tapi motor tidak bisa kita rawat, ya akhirnya rusak. Kalau rusak kita tidak bisa cari nafkah lagi,” tuturnya.
Ia pun berharap pemerintah lebih peka terhadap kondisi masyarakat kecil yang terdampak langsung oleh kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok.
“Lihatlah masyarakat di bawah. Survei langsung ke lapangan supaya tahu kondisi sebenarnya,” ucap Dewi.
Keluhan serupa juga disampaikan Ipan, pengemudi ojol lain di Semarang. Meski masih bertahan menggunakan Pertalite subsidi, ia menilai kenaikan Pertamax tetap memberikan efek domino terhadap harga barang dan jasa lainnya.
“Efeknya pasti ke mana-mana. Harga-harga lain akan ikut naik. Tidak menutup kemungkinan nanti Pertalite juga naik atau bahkan hilang,” kata Ipan.
Sebagai pengemudi aktif yang bekerja 12 hingga 15 jam per hari, Ipan mengaku harus mengganti oli setidaknya satu kali dalam sebulan. Harga oli yang sebelumnya Rp 55.000 kini naik menjadi sekitar Rp 75.000 per botol.
Baca juga: Harga BBM Pertamina Naik Tajam, Pertamax Turbo hingga Dex Tembus Puluhan Ribu per Liter
Selain biaya operasional yang terus naik, Ipan juga mulai khawatir terhadap potensi berkurangnya jumlah order akibat melemahnya daya beli masyarakat.
“Kalau harga-harga naik terus, masyarakat juga akan mengurangi pengeluaran. Itu bisa berpengaruh ke jumlah order yang kami terima,” ujarnya.
Di tengah situasi tersebut, Ipan berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang benar-benar membantu pengemudi ojol, terutama terkait biaya perawatan kendaraan.
“Kalau bisa ada subsidi silang untuk oli atau sparepart. Tidak harus bantuan langsung, tapi setidaknya ada sesuatu yang bisa membantu biaya operasional driver,” katanya.
Kondisi yang dialami Dewi dan Ipan menjadi gambaran tekanan ekonomi yang kini dirasakan banyak pengemudi ojol di tengah kenaikan biaya hidup dan mahalnya kebutuhan operasional kendaraan.
Editor : Redaksi
