Jakarta

Rupiah Melemah ke Rp17.405 per Dolar AS, Dampak Geopolitik Jadi Pemicu Utama

Rupiah Melemah ke Rp17.405 per Dolar AS, Dampak Geopolitik Jadi Pemicu Utama © mili.id

Mili.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (5/5/2026) pagi. Pelemahan ini dipicu sentimen eksternal, terutama ketegangan geopolitik yang berdampak pada pasar energi global.

Berdasarkan data perdagangan, rupiah melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.394 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah juga sudah terkoreksi cukup dalam sebesar 57 poin atau 0,33 persen.

Baca juga: Pemerintah Intens Bahas Pelemahan Rupiah, Koordinasi Fiskal dan Moneter Diperkuat

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari eskalasi konflik di Eropa Timur. Serangan Ukraina terhadap fasilitas minyak di Rusia dinilai memicu ketidakpastian di pasar global.

“Serangan terhadap kilang minyak Rusia berpotensi mengganggu pasokan energi dunia, sehingga mendorong kenaikan harga minyak dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan keterangan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, yang menyebut serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dapat mempercepat kenaikan harga minyak global akibat berkurangnya pasokan.

Di sisi lain, ekonom dari Universitas Gadjah Mada, John Eddy Junarsin, menilai fluktuasi nilai tukar merupakan fenomena yang kompleks. Menurutnya, pergerakan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan kebijakan domestik.

Baca juga: “Prabowo Puji PDIP Jadi Penyeimbang Pemerintah, Singgung Demokrasi di Tengah Gejolak Ekonomi”

“Nilai tukar tidak bisa dilihat secara sederhana. Ada faktor pasar, geopolitik, hingga kebijakan pemerintah yang saling berinteraksi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah. Meski memiliki instrumen intervensi, bank sentral tidak sepenuhnya mampu mengendalikan arah pasar.

Menariknya, pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif. Dalam kondisi tertentu, situasi ini justru membuka peluang bagi sektor ekspor. Produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif di pasar internasional, sementara barang impor cenderung lebih mahal sehingga mendorong penggunaan produk lokal.

Baca juga: Update Harga Pangan Papua Barat: Minyak Goreng Curah Tertinggi Kenaikan

“Ini bisa menjadi momentum bagi industri berorientasi ekspor untuk meningkatkan daya saing dan membuka lapangan kerja,” tambah John.

Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta waspada terhadap volatilitas global yang masih tinggi, terutama terkait dinamika geopolitik dan harga komoditas energi.

Editor : Redaksi



Berita Terkait