Tangis Bumi Panjalu

Tangis Bumi Panjalu © mili.id

Tangis Bumi Panjalu (Foto-foto: DY for mili.id)

Kediri, mili.id - Bumi Panjalu menangis pada Sabtu, 30 Agustus 2025 lalu.

Kerusuhan pecah di dua wilayah Bumi Panjalu, yaitu Kota Kediri dan Kabupaten Kediri.

Baca juga: Kemenhaj Kaji Bandara Dhoho Kediri Jadi Embarkasi Haji Baru untuk 2027

Di Kota Kediri, perusuh merusak mapolres kota. Kemudian membakar gedung DPRD setempat, yang berada di Jalan Mayor Bismo Kecamatan Mojoroto.

Perusuh lalu bergerak ke wilayah Kabupaten Kediri. Mereka membakar gedung DPRD dan pemerintah kabupaten (pemkab) di Jalan Soekarno-Hatta.

Di sini, perusuh juga menjarah barang-barang bersejarah, salah satunya kepala patung Ganesha.

Pada Sabtu itu, massa berkumpul sekitar pukul 15.00 WIB di Taman Sekartaji, tidak jauh dari Mapolres Kediri Kota. Mulanya, aksi berjalan damai. Namun selang beberapa waktu, massa mulai melempari kaca mapolres. Mereka menyerat keluar beberapa kendaraan di sana untuk dibakar. Mobil pun mereka balikkan.

Personel polisi yang sudah siaga di mapolres, lalu memukul mundur massa, hingga mereka dengan gas air mata dan water cannon.

Massa kemudian bergeser ke kantor DPRD Kota Kediri. Di sini, mereka membakar gedung yang biasa dipakai para wakil rakyat.

Tak berhenti di situ, massa kembali bergerak menuju Kantor Pemkab Kediri dan gedung DPRD kabupaten.

Tindakan anarkis dimulai dengan menjebol pintu pagar depan kantor pemkab dan membakarnya di jalan. Beberapa ruangan pemkab juga dirusak, barangnya dijarah.

Para perusuh juga merusak dan membakar Gedung DPRD Kabupaten Kediri. Museum Kabupaten Kediri tak jauh dari sana juga kena imbas. Koleksi berharga berupa patung kepala Ganesha raib, dijarah tangan-tangan jahat perusuh.

Dari video yang berseliweran di media sosial, museum itu berantakan. Kaca-kaca pelindung koleksi benda berharga pecah. Dari kejauhan, api tampak berkobar hebat.

Bumi Panjalu lumpuh pada Sabtu malam mencekam itu.

Dampak Kerusuhan di Bumi Panjalu

Kerusuhan di Bumi Panjalu menyisakan dampak yang luar biasa. Kantor pemerintahan, kantor polisi, gedung DPRD, museum, hingga klinik dirusak dan dibakar para perusuh, yang rata-rata berpakaian hitam.

Berdasarkan data terbaru, di wilayah kota, kerusakan terjadi di Gedung DPRD, kantor Satlantas Polres Kediri Kota, Mako Polres Kediri Kota, Pos Polisi Jong Biru, Semampir dan pojok Pattimura, Polsek Kediri Kota dan Klinik Pratama di kawasan polsek tersebut.

Sementara di Kabupaten Kediri, kantor Pemkab Kediri, Gedung DPRD, Samsat Kediri, Pos Polisi Katang, Polsek Ngasem, Polsek Gampengrejo, Polsek Kepung, Kantor Satlantas 90 Polres Kediri, Pos Lantas 901 Polres Kediri, dan Museum Bagawanta Bhari dirusak dan dibakar massa.

Selain gedung, puluhan kendaraan di titik-titik pembakaran tersebut hangus. Tak hanya kendaraan dinas, ada juga kendaraan-kendaraan barang bukti di kantor Satlantas.

Baca juga: Polres Kediri Kota Ringkus Pelaku Spesialis Pecah Kaca Mobil, Beraksi di 13 TKP Lintas Daerah

Kabupaten Kediri Terapkan Jam Malam

Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana (Mas Dhito) mengajak masyarakat menjaga wilayahnya masing-masing agar tetap aman dan kondusif. Dia juga meminta perangkat desa untuk menghidupkan kembali sistem Jaga Desa.

"Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Kediri untuk menjaga wilayahnya masing-masing supaya tetap aman, tetap kondusif. Jadi sistem Jaga Desa kita hidupkan kembali," kata Mas Dhito dikutip Selasa (2/9/2025).

Dia juga mengimbau kepada seluruh orangtua, murid, dan guru-guru di Kabupaten Kediri. Menurutnya, mayoritas aksi kemarin dilakukan para pelajar yang usianya 14-17 tahun.

“80 persen dilakukan oleh pelajar. Nah, ini tugasnya tidak bisa diselesaikan oleh bupati, tidak bisa diselesaikan oleh Dandim, Kapolres. Ini kita akan memformulasikan bagaimana setiap orang tua bisa memastikan bahwa anak-anaknya itu tidak melakukan hal-hal yang sifatnya kriminal,” jelasnya.

Kini, jam malam mulai diterapkan

"Jadi, di atas jam 09.00 jam 10.00 WIB, kalau masih ada yang berkerumun kami akan bubarkan. Patroli kita tingkatkan memang khususnya di titik-titik rawan. Seperti di Ngasem, di Pare, dua titik itu yang kita fokuskan untuk di Kabupaten Kediri,” tegasnya.

Terkait aset Pemkab Kediri yang rusak dan hilang, Mas Dhito masih terus melakukan inventarisir.

“Sejumlah data penting hilang, mulai dari arsip bantuan organisasi masyarakat, data kepegawaian, hingga pemetaan aset Pemkab. Selebihnya masih kami inventarisir,” ujarnya.

Meski begitu, Mas Dhito menegaskan pelayanan publik kepada masyarakat tetap berjalan. Pemerintah telah menyiapkan langkah darurat, termasuk pemindahan lokasi kerja ke gedung-gedung milik Pemkab yang tidak terdampak.

Baca juga: Budidaya Uwi Ungu Polres Kediri Terus Berkembang Dukung Ketahanan Pangan Lokal

Kota Kediri Siapkan GNI Jadi Kantor Sementara Waki Rakyat

Sementara Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati juga tengah menginventarisir aset yang rusak dan hilang utamanya di gedung DPRD Kota Kediri.

Dia menyiapkan Gedung Nasional Indonesia (GNI) sebagai kantor sementara para anggota dewan.

“Kami telah meninjau Kantor DPRD Kota Kediri dan melakukan inventarisasi kerugian atas kerusakan dan kehilangan aset di Kantor DPRD Kota Kediri. Tujuannya agar jelas dan segera ditindaklanjuti. Kami bersama pimpinan DPRD Kota Kediri juga sudah merapatkan, dan untuk sementara aktivitas DPRD akan dipindahkan ke Gedung GNI ini,” jelas Wali Kota Vinanda.

Mbak Wali menambahkan, Gedung GNI dipilih karena merupakan aset yang siap digunakan dan representatif dalam kondisi darurat.

“Gedung ini sudah tepat untuk keadaan darurat dan bisa langsung digunakan. Untuk perbaikan Kantor DPRD Kota Kediri nanti akan kami sampaikan kembali,” imbuhnya.

Namun, dia menekankan bahwa perpindahan belum bisa dilakukan segera, karena saat ini Gedung GNI masih digunakan berkegiatan oleh masyarakat.

“Setelah masyarakat selesai berkegiatan di sini, DPRD Kota Kediri baru bisa pindah dan beraktivitas normal kembali, untuk menyerap aspirasi masyarakat,” terangnya.

Ketua DPRD Kota Kediri, Firdaus, menyambut baik keputusan tersebut. Menurutnya, GNI merupakan pilihan paling representatif dibandingkan aset lain yang hanya berupa tanah.

“Kami bergerak cepat bersama pimpinan dewan dan Wali Kota Kediri beserta jajarannya. GNI ini lebih layak karena tidak membutuhkan waktu lama untuk merenovasinya dan bisa segera digunakan," tandasnya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait